Kamis, 26 April 2012

PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES DALAM PEMBELAJARAN IPA


PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES
DALAM PEMBELAJARAN IPA

Prisma Akbar Dhina
Pendidikan IPA Internasional
Prisma_akdhin@yahoo.com

ABSTRACT

Key words : approach skills, concepts
This paper aims to find meaning in the process skills approach to learning science, the importance of the skills approach to learning processes in science, the pattern of implementation of the approach of  process skills, skill that are commonly used in science learning (skill of observasing, classifying, communicating, measuring, predicting and concluding) and steps in the implementasi process skills. Skills approach is an approach to teaching and learning processes that lead to the development of basic skills in the form of physical mental and concepts or the development of attitudes and values through teaching and learning processes that have enabled students to be able to grow a number of specific skills on students’self.


ABSTRAK

Kata kunci : pendekatan keterampilan, fakta, proses, konsep
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui maksud pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA, pentingnya pendekatan keterampilan proses, pola pelaksanaan pendekatan keterampilan proses, keterampilan yang biasa digunakan dalam pembelajaran IPA (keterampilan mengamati atau observasi, mengklasifikasi, mengkomunikasikan, mengukur, memprediksi dan menyimpulkan) dan langkah-langkah dalam pelaksanaan keterampilan proses. Pendekatan keterampilan proses merupakan   pendekatan belajar mengajar yang mengarah pada pengembangan kemampuan dasar berupa mental fisik dan social untuk menemukan fakta dan konsep ataupun pengembangan sikap dan nilai melalui proses belajar mengajar yang telah mengaktifkan siswa sehingga mampu menumbuhkan sejumlah keterampilan tertentu pada diri peserta didik.







PENDAHULUAN

Permasalahan yang ada dalam dunia pendidikan formal bertambah dari tahun ke tahun. Salah satu permasalahan utama yang dihadapi bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan formal pada setiap jenjang pendidikan. Usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti.
Banyak pihak yang mempertanyakan apa yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita ? Dari berbagai pengamatan dan analisis data ada banyak faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan yang bermakna, salah satunya yaitu pendekatan yang digunakan di dalam kelas belum mampu menciptakan kondisi optimal bagi berlangsungnya pembelajaran. Selama ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan input-output analisis, yaitu pendekatan yang menganggap bahwa apabila input pendidikan seperti pelatihan guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan lainnya dipenuhi maka mutu pendidikan secara otomatis akan terjadi. Dalam kenyataan mutu pendidikan yang diharapkan tidak terjadi, karena selama ini pendekatan terlalu memusatkan pada input pendidikan dan kurang memperhatikan proses pendidikan padahal proses pendidikan sangat menentukan output pendidikan.
Proses pendidikan tidak terlepas dari kegiatan belajar mengajar di kelas. Kegiatan belajar mengajar sangat ditentukan oleh kerjasama antara guru dan siswa. Guru dituntut untuk mampu menyajikan materi pelajaran dengan optimum. Oleh karena itu diperlukan kreatifitas dan gagasan yang baru untuk mengembangkan cara penyajian materi pelajaran di sekolah. Kreativitas yang dimaksud adalah kemampuan seorang guru dalam memilih metode, pendekatan, dan media yang tepat dalam penyajian materi pelajaran.
Kenyataan menunjukkan bahwa sampai saat ini masih banyak guru yang menggunakan pendekatan tradisional dalam pembelajaran IPA sehingga siswa belum terarahkan untuk memahami sendiri konsep-konsep IPA yang sedang dipelajari. Pendekatan tradisional tersebut belum mampu mengembangkan kemampuan kognitif (penalaran), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan) seperti yang digariskan dalam GBPP. Dengan demikian siswa hanya cenderung menghafalkan konsep-konsep IPA yang dipelajarinya tanpa memahami dengan benar. Akibatnya penguasaan terhadap konsep-konsep IPA siswa menjadi sangat kurang. Selain itu guru sebagai pemberi informasi cenderung mendominasi kegiatan pembelajaran di kelas sehingga tidak terjadi hubungan timbal balik antar guru dan siswa yang berimplikasi terhadap kualitas pembelajaran dalam proses belajar mengajar IPA.
Dari uraian di atas, maka salah satu upaya yang dianggap dapat memecahkan masalah tersebut adalah dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses sebagai satu strategi yang diharapkan melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran IPA.















PEMBAHASAN

1.   Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses
Pendekatan keterampilan proses adalah  pendekatan belajar mengajar yang mengarah pada pengembangan kemampuan dasar berupa mental fisik dan sosial untuk menemukan fakta dan konsep ataupun pengembangan sikap dan nilai melalui proses belajar mengajar yang telah mengaktifkan siswa sehingga mampu menumbuhkan sejumlah keterampilan tertentu pada diri peserta didik. Pada petunjuk pelaksanaan prosese balajar mengajar dijelaskan pula bahwa yang dimaksud dengan keterampilan proses adalah keterampilan siswa untuk mengelola perolehan belajarnya yang didapat melalui proses belajar mengajar yang memberikan kesempatan lebih luas kepada siswa untuk mengamati, menggolongkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan, dan mengkomonikasikannya. Pada dasarnya keterampilan fisik dan mental serta pengembangan keterampilan proses telah dimiliki pula oleh anak meskipun dalam wujud potensi atau kemampuan yang masih rendah, kemampuan yang masih perlu dituntut untuk diwujudkan.
Menurut Suryo Subroto (1995 : 75), ”Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproseskan pendekatan belajar, anak akan mampu menemukan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut seluruh irama gerak atau tindakan dalam proses balajar-mengajar sejati menciptakan kondisi cara belajar siswa aktif.” Menurut Azhar dalam Ade Sanjaya (1993: 7), ”Keterampilan proses merupakan kemampuan siswa untuk mengelola (memperoleh) yang didapat dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian, mengkomunikasikan hasil perolehan tersebut.”
Dengan demikian, melalui pendekatan keterampilan proses itu diterapkan sentuhan untuk mengaktifkan anak didik belajar untuk mempelajari sesuatu mewujudkan suatu minat yang akhirnya mengarah kepada suatu keterlibatan yang
dilandasi rasa tanggung jawab didalam menghadapi dan mangatasi masalah-masalah dalam belajar. Proses belajar mengajar hendaknya selalu mengikutkan siswa secara aktif guna mengembangkan kemampuan-kemampuan siswa antara lain kemampuan mengamati, menginterpretasikan, meramalkan, mengaplikasikan konsep, merencanakan dan melaksanakan penelitian, serta mengkomunikasikan hasil penemuannya. Hal ini sejalan dengan tujuan pendekatan keterampilan proses itu sendiri yang meliputi :
1.      Memberikan motivasi belajar kepada siswa karena dalam keterampilan proses siswa dipacu untuk senantiasa berpartisipasi aktif dalam belajar.
2.      Untuk lebih memperdalam konsep pengertian dan fakta yang dipelajari siswa karena hakekatnya siswa sendirilah yang mencari dan menemukan konsep tersebut.
3.      Untuk mengembangkan pengetahuan atau teori dengan kenyataan hidup dalam masyarakat sehingga antara teori dan kenyataan hidup akan serasi.
4.      Sebagai persiapan dan latihan dalam menghadapi hidup didalam masyarakat sebab siswa telah dilatih untuk berpikir logis dalam memecahkan masalah.
5.      Mengembangkan sikap percaya diri, bertanggung jawab dan rasa kesetiakawanan sosial dalam menghadapi berbagai masalah.
Pada dasarnya keterampilan proses ini dilaksanakan dengan menekankan pada bagaimana siswa belajar, bagaimana siswa mengolah problemnya sehingga menjadi miliknya. Yang dimaksud dengan perolehan adalah hasil belajar siswa yang diperoleh dari pengalaman dan pengamatan lingkungan yang diolah menjadi suatu konsep yang diperoleh dengan jalan belajar secara aktif melalui keterampilan proses.

2.   Pentingnya Pendekatan Keterampilan Proses
Ada beberapa alasan yang melandasi perlu diterapkan pendekatan keterampilan proses (PKP) dalam kegiatan belajar mengajar yaitu perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Para ahli psikologi umumnya berpendapat bahwa anak-anak muda memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh kongrit, penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat relatif benar seratus persen, dan dalam proses belajar mengajar pengembangan konsep tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak didik.
Menurut Dimiyati (2002: 137), “Pendekatan keterampilan proses (PKP) perlu diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar berdasarkan alasan-alasan berikut: percepatan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman intelektual emosional dan fisik dibutuhkan agar didapatkan hasil, belajar yang optimal, penerapan sikap dan nilai pengabdian pencarian abadi kebenaran ini.”

3.   Pola Pelaksanaan Pendekatan Keterampilan Proses
Dalam melaksanakan pendekatan keterampilan proses perlu memperhatikan hal-hal yaitu pembelajaran harus sesuai dan selalu berpedoman pada tujuan akhir kulikuler, harus berpegang pada dasar pemikiran bahwa semua siswa mempunyai kemampuan (potensi) sesuai dengan kodratnya, harus memberikan kesempatan, penghargaan dan motivasi kepada peserta didik untuk berpendapat, berfikir, dan mengungkapkan perasaan dan pikiran, bagi siswa pembinaan harus berdasarkan pengalaman belajar siswa, perlu mengupayakan agar pembina mengarah pada kemampuan siswa untuk mengolah hasil temuannya dan harus berpegang pada prinsip ”Tut Wuri Handayani”.
Untuk melaksanakan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA, maka harus mengamati keterampilan mendasar baik mental, fisik maupun sosial. Yang dimaksud dengan keterampilan mendasar yaitu :
a.       Observasi
Kegiatan mengamati atau observasi dapat dilakukan peserta didik melalui kegiatan belajar, melihat, mendengar, meraba, mencicip dan mengumpulkan dan atau informasi. Kegiatan mengamati merupakan tingkatan paling rendah dalam pengembangan keterampilan dasar dari peserta didik, karena hanya sekedar pada penglihatan dengan panca indera. Pada dasarnya mengamati dan melihat merupakan dua hal yang berbeda walaupun sekilas mengandung pengertian yang sama. Melihat belum tentu mengamati, karena setiap hari mungkin peserta didik melihat beraneka ragam tanaman, hewan, benda-benda lain yang ada di sekitarnya, tetapi sekedar melihat tanpa mengamati bagaimana sebenarnya tanaman, hewan tersebut berkembang.
b.      Mengklasifikasikan
Mengklasifikasikan merupakan keterampilan proses untuk memilih berbagai obyek peristiwa berdasarkan sifat-sifat khsususnya. Sehingga didapatkan golongan atau kelompok sejenis dari obyek yang dimaksud. Mengklasifikasi dapat dilakukan dengan cara mencari persamaan dengan menyamakan, mengkombinasikan, menggolongkan dan mengelompokkan.
c.       Mengkomunikasikan
Mengkomunikasikan tidak hanya melalui berbicara saja tetapi dapat dengan gambar, tulisan, dan penampilan. Menurut Djamarah dalam Ade Sanjaya (2000: 16), kegiatan mengkomunikasikan dapat berkembang dengan baik pada diri peserta didik apabila mereka melakukan aktivitas seperti : berdiskusi, mendeklamasikan, mendramatikan, bertanya, mengarang, memperagakan, mengekspresikan dan melaporkan  dalam bentuk lisan, tulisan, gambar dan penampilan.
d.      Mengukur
Mengukur diartikan membandingkan yang diukur dengan satuan ukuran tertentu yang telah ditetapkan. Mengembangkan keterampilan mengukur dapat dengan cara mengembangkan sesuatu, karena pada dasarnya mengukur adalah membandingkan, misalnya saja siswa membandingkan luas kelas, volume balok.
e.       Memprediksi
Memprediksi adalah antisipasi atau meramal tentang sesuatu hal yang akan terjadi di waktu yang akan datang, berdasarkan pada pola kecenderungan tertentu, atau hubungan antara fakta dan konsep dalam ilmu pengetahuan. Untuk mengembangkan keterampilan memprediksi dapat dilakukan oleh peserta didik melalui kegiatan belajar antisipasi yang berdasarkan pada pola/kecenderungan. Hubungan antara data, hubungan informasi. Hal ini dapat dilakukan seperti memprediksi waktu terbitnya matahari.
f.       Menyimpulkan
Menyimpulkan adalah suatu keterampilan untuk memutuskan keadaan suatu objek atau peristiwa bardasarkan fakta, konsep dan prinsip yang diketahui. Contoh dari kegiatan menyimpulkan yaitu berdasarkan pengamatan diketahui bahwa lilin mati ketika di tempatkan pada botol atau gelas dengan keadaan tertutup, kemudian peserta didik menyimpulkan bahwa lilin akan hidup atau menyala jika ada oksigen.

4.   Langkah-Langkah Dalam Pelaksanaan Pendekatan Keterampilan Proses
            Langkah-langkah yang dilakukan dalam pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA antara lain.
  1. Pendahuluan
Kegiatan pendahuluan dimaksudkan untuk mengarahkan peserta didik pada pokok permasalahan agar peserta didik siap mengikuti kegiatan belajar mengajar, baik secara mental, emosional maupun fisik. Kegiatan pendahuluan ini dilakukan dengan pengulasan bahan atau materi yang pernah dialami peserta didik yang ada keterkaitan atau hubungan dengan materi atau bahan yang akan diajarkan. Selanjutnya dengan menggugah dan mengarahkan perhatian peserta didik dengan mengajukan pertanyaan, pendapat dan saran, menunjukkan gambar yang berhubungan dengan materi.
  1. Inti
Dalam kegiatan inti ini yang perlu dilakukan adalah menjelaskan materi pelajaran yang diikuti dengan peragaan, demonstrasi, gambar, modal. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengembangkan kemampuan mengamati dengan cepat, cermat dan tepat. Kegiatan-kegiatan yang tergolong dalam langkah-langkah proses belajar mengajar atau bagian inti yang bercirikan keterampilan proses, meliputi: merumuskan hasil pengamatan dengan merinci, mengelompokkan atau mengklasifikasikan materi pelajaran yang diserap dari kegiatan pengamatan, menafsirkan hasil pengelompokkan dengan menunjukkan sifat, hal dan peristiwa atau gejala yang terkandung pada tiap-tiap kelompok, meramalkan sebab akibat kejadian atau peristiwa lain yang mungkin terjadi di waktu lain atau mendapat suatu perlakuan yang berbeda, menerapkan pengetahuan keterampilan sikap yang diperoleh dari kegiatan sebelumnya pada peristiwa yang baru atau berbeda, merencanakan penelitian, serta engkomunikasikan hasil kegiatan pada orang lain dengan diskusi, ceramah dan lain-lain.
Guru mengawali kegiatan dengan mengajukan masalah keterampilan proses. Jika pengetahuan materi siswa belum cukup untuk menjawab masalah tersebut, maka guru membimbing siswa kearah jawaban yang benar atau menjelaskan materi yang belum dipahami siswa. Guru memberikan pekerjaan kepada siswa aecara berkeliling. Kemudian guru memberikan pertanyaan lanjutan lalu mendorong siswa untuk membuat kesimpulan dari jawaban yang bervariasi, sampai kepada kesimpulan yang diinginkan. Guru selalu memantau belajar siswa, untuk mengetahui apakan materi yang diinginkan sudah dipahami, siswa diberi kesempatan untuk bertanya dan meminta penjelasan guru.
  1. Penutup
Pada kegiatan penutup ini dapat dilakukan dengan cara mengkaji ulang kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan dan menyimpulkan hasil yang telah diperoleh. Mengadakan tes akhir untuk mengetahui seberapa dalam siswa menangkap materi yang disampaikan. Dapat dengan memberikan tugas seperti PR.
                                                                                                                        









PENUTUP

Kesimpulan
1.      Pendekatan keterampilan proses adalah  pendekatan belajar mengajar yang mengarah pada pengembangan kemampuan dasar berupa mental fisik, dan social untuk menemukan fakta dan konsep ataupun pengembangan sikap dan nilai melalui proses belajar mengajar yang telah mengaktifkan siswa sehingga mampu menumbuhkan sejumlah keterampilan tertentu pada diri peserta didik
2.      Untuk melaksanakan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA, maka harus mengamati keterampilan mendasar yaitu berupa: observasi, mengklasifikasikan, mengkomunikasikan, mengukur, memprediksi dan menyimpulkan.
3.      Untuk melaksanakan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA, maka harus mengamati keterampilan mendasar yaitu berupa: observasi, mengklasifikasikan, mengkomunikasikan, mengukur, memprediksi dan menyimpulkan.
4.      Langkah-langkah yang diambil dalam pendekatan ini yaitu pendahuluan mengarahkan peserta didik pada pokok permasalahan agar peserta didik siap mengikuti kegiatan belajar mengajar, baik secara mental, emosional maupun fisik. Inti menjelaskan materi pelajaran yang diikuti dengan peragaan, demonstrasi, gambar, modal. Dan penutup, mengkaji ulang kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan dan menyimpulkan hasil yang telah diperoleh.








DAFTAR PUSTAKA

Darmin, E. T.(2003). Belajar Dan Pembelajaran. Surabaya: Terbit Terang.
Subroto, Suryo. (1996). Proses Belajar Mengajar Disekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana. (1997). Penilaian Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT. Remaja
Rosda Karya.
Abidin, Muhammad Zainal. (2011). Pendekatan Keterampilan Proses Matematika. Diambil pada tanggal 18 Maret 2011, dari http://masbied.com
Sanjaya, Ade. (2011). Pendekatan Keterampilan Proses.Diambil pada tanggal 19      Maret 2011, dari http://aadesanjaya.blogspot.com



0 komentar:

Poskan Komentar